Raka stood up, his joints popping. He walked out of the cinema into the Jakarta night. The rain had stopped, leaving the streets slick and reflecting the neon lights. He didn't feel forty-two. For the first time in a long time, he didn't feel the weight of his age. He felt the weight of the music, and it made him lighter.

Sementara kritikus film dari Rolling Stone Indonesia menulis:

Film "Slank Nggak Ada Matinya" ini menceritakan tentang perjalanan karir band Slank yang telah mencetak sejumlah album sukses dan telah menjadi salah satu band rock terpopuler di Indonesia. Dalam film ini, penonton dapat menyaksikan konser-konser mereka, serta wawancara dengan anggota band dan orang-orang yang terlibat dalam perjalanan karir mereka.